Cara Menghitung Gross Profit Margin dan Profit Perusahaan

Istilah laba atau rugi memang sering kita dengar di sebuah perusahaan. Bagi orang yang awam dengan bidang ekonomi atau keuangan, tentunya tidak mengerti bagaimana suatu perusahaan bisa mengalami rugi atau untung dan bagaimana cara menganalisa untung atau rugi di sebuah perusahaan.

Nah, kali ini anda akan diberi pengetahuan dasar mengenai cara menganalisa untung atau rugi.

Mungkin saja informasi ini kelak bermanfaat untuk anda. Membuat laporan keuangan nampaknya sudah menjadi pekerjaan rutin para pemilik perusahaan. Melalui laporan keuangan ini, pemilik perusahaan dapat menyimpulkan apakah perusahaan yang dikelolanya mengalami untung atau rugi.

Tentu akan senang rasanya jika angka-angka menunjukan untung, sebaliknya pemilik perusahaan harus segera membenahi perusahaannya jika perusahaan dinyatakan mengalami kerugian.

Melihat pentingnya analisa keuangan terkait dengan untung atau ruginya perusahaan yang anda kelola, anda harus paham dengan analisa laporan laba-rugi secara detail dengan tujuan agar rating penjualan perusahaan anda meningkat dan beban perusahaan anda menurun.

Dalam ilmu akuntansi, laporan laba-rugu terdiri dari beberapa macam, yaitu:

• Pendapatan (dari penjualan)
• HPP (biaya/ beban penjualan produk/ jasa)
• Laba kotor
• Beban
• Laba bersih

GRATIS - 7 materi pelatihan yang WOW dan 5 ebook yang LUAR BIASA tentang Ilmu Bisnis dan Pengembangan Diri. Download Gratis Sekarang.

Laporan laba-rugi setiap perusahaan perlu dibuat setiap bulannya agar pengelola perusahaan mengetahui kondisi perusahaannya, apakah perusahaannya terus mengalami kerugian atau malah sebaliknya, perusahaan terus mendapatkan keuntungan tiap bulannya.

Biasanya laporan laba-rugi ini dibuat menjelang akhir bulan. Suatu perusahaan bisa saja memiliki nilai pendapatan yang tinggi dan fantastis, akan tetapi jika beban usaha tidak dapat dikontrol, kemungkinan besar perusahaan akan mengalami kerugian.

Maka dari itu, pengelola perusahaan perlu mengetahui secara detail seberapa besar beban perusahaan dan menerapkan strategi tertentu agar beban usaha dapat ditekan dan diturunkan tanpa membawa pengaruh buruk pada pendapatan perusahaan. Situasinya akan sama apabila beban usaha terlihat minim akan tetapi pendapatan perusahaan ternyata tidak mampu menutupi beban perusahahaan. Artinya, kondisi ini juga dapat menyebabkan perusahaan merugi.

Terdapat beberapa komponen yang terdapat pada laporan laba-rugi, yaitu:

• Pendapatan
Ada dua kategori pendapatan, yaitu pendapatan usaha (pendapatan yang didapatkan dari kegiatan usaha perusahaan) dan pendapatan luar usaha (pendapatan yang didapatkan dari luar perusahaan/ sektor di luar perusahaan). Contoh dari pendapatan luar usaha yaitu pendapatan bunga investasi atau bunga bank pada sebuah bank.

• Beban
Beban perusahaan terbagi menjadi beberapa kategori yaitu, beban usaha dan beban di luar usaha. Beban usaha contohnya beban penyusutan, biaya listrik, biaya penjualan, biaya transportasi, beban gaji karyawan, biaya pajak, dll. Dari sekian banyak beban perusahaan, terdapat 3 jenis beban usaha yang tergolong besar, yaitu beban pajak, beban gaji, dan beban penjualan. Beban tinggi juga dapat ditanggung oleh perusahaan tergantung pada jenis/ bidang yang dikelola oleh perusahaan.

Sebagai contoh: perusahaan iklan. Perusahaan iklan kemungkinan besar memiliki tanggungan besar seperti beban advertising baru beban gaji dan beban penjualan. Beban-beban tinggi tersebut wajib mendapatkan perhatian apakah beban tersebut bisa ditekan tanpa mengganggu penjualan.

Berbeda dengan beban usaha, beban luar usaha adalah beban-beban yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan untuk kepentingan umum perusahaan. Beban-beban luar usaha ini meliputi biaya pemeliharaan gedung/ kantor, biaya kerusakan gedung, dll.

Laba yang besar yang didapatkan oleh sebuah perusahaan belum tentu dapat menarik hati para investor dan pemilik perusahaan itu sendiri. Bisa saja prosentase laba dari hasil penjualan belum memenuhi ekspektasi investor atau pemilik perusahaan. Untuk mengetahui prosentase laba suatu perusahaan, perlu dilakukan Rasio Finansial yang dibuat khusus untuk Laporan Laba-Rugi.

Gross Profit Margin =
Laba Kotor / Total Pendapatan

Prosentase Gross Profit Margin suatu perusahaan dapat dihitung dengan membandingkan laba kotor dengan total pendapatan.

Misal:
Laba kotor perusahaan X : Rp.48.000.000
Total pendapatan perusahaan X : Rp. 55.000.000
Maka Gross Profit Margin perusahaan X = (Laba Kotor/ Total Pendapatan ) 100%
= (48.000.000/ 55.000.000) x 100%
= 87%

Artinya, untuk setiap 1 rupiah pendapatan perusahaan, perusahaan harus membayar beban usahanya sebesar 0,87 rupiah (dari 87%). Prosentase Gross Profit Margin ini dapat dijadikan sebagai indikator kesehatan suatu perusahaan.

Jika prosentase Gross Profit Margin-nya rendah, artinya beban penjualan perusahaan tinggi sehingga menyebabkan Laba Kotornya rendah. Perusahaan perlu menerapkan strategi bisnis baru jika Gross Profit Margin-nya di bawah angka 50%.

7 Ilmu Powerful yang akan Mengubah Nasib dan Masa Depan Anda. JANGAN DI-KLIK, jika Anda sudah Merasa Sukses.

Free Ebook

Dapatkan Lima Buku Dahsyat tentang Karir, Strategi Bisnis, Motivasi dan Financial Freedom secara GRATIS!