Anda mungkin sering mendengar cerita tentang pemimpin perusahaan yang mengeluh karena perusahaannya sudah menghabiskan sekian banyak dana untuk training pegawai, namun hasilnya ternyata hampir tidak ada sehingga investasinya terbuang percuma.

Hal ini bisa jadi karena training materials yang dibuat tidak efektif sehingga tidak berhasil menciptakan transfer ilmu yang langsung bisa dimanfaatkan oleh peserta training; ibaratnya seperti guru yang hanya tahu memberikan teori tanpa praktek langsung kepada murid sehingga murid tersebut tidak bisa mempraktekkan ilmunya di dunia nyata.

Tidak bisa dipungkiri bahwa mengubah perilaku karyawan berdasarkan poin-poin dalam materi training merupakan pekerjaan yang sulit, namun paling tidak anda bisa membuat materi training yang bukan hanya dapat memberikan transfer ilmu yang bisa langsung dipraktekkan, namun juga bisa diukur dan diamati.

Dengan kata lain, training materials yang dibuat tidak boleh hanya mengandung konsep abstrak namun juga hal-hal praktis yang dapat dilakukan secara nyata oleh peserta training serta relevan dengan kegiatan mereka sehari-hari.

Mempersiapkan Training Materials yang Efektif
Sebelum mengusulkan pengadaan training apapun, lakukan pengamatan terhadap karyawan untuk menentukan kebutuhan training.

Gunakan teknik performance management untuk menentukan apakah seorang karyawan memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan tugas yang diberikan padanya secara optimal atau tidak. Bila tidak, rancanglah konsep training dengan training materials yang berisi hal-hal yang berhubungan langsung dengan kondisi kerja karyawan tersebut setiap hari bukannya konsep abstrak, serta harus dapat diterapkan langsung oleh karyawan segera setelah training selesai.

Bila perusahaan ingin agar karyawan menguasai keahlian tertentu setelah training selesai, cantumkan dengan jelas ekspektasi yang diinginkan perusahaan di dalam materi training berikut hal-hal yang harus dilakukan karyawan untuk memeroleh keahlian tersebut secara rinci (jangan sampai terjadi kerancuan).

Pastikan bahwa setiap poin yang ada di dalam materi training relevan dengan tujuan training serta tuntutan perusahaan sehingga tidak ada materi yang tidak berguna yang membuang-buang waktu serta mengaburkan pesan sebenarnya dari training tersebut.

Setiap poin dari tujuan pelatihan harus ditampilkan dalam materi training dalam tujuan atau sasaran perilaku yang bisa diamati dan diukur. Jangan lupa melengkapi materi training dengan tes tertulis sebelum dan sesudah training untuk membantu melihat dan mengukur pemahaman peserta terhadap isi materi dan konteks training sehingga memberikan data obyektif yang bisa diukur.

Jika konsep training dan training materials anda sudah selesai, jangan lupa untuk mengkomunikasikan tujuan training, alasan mengapa karyawan membutuhkan training tersebut serta ekspektasi dari perusahaan bagi karyawan yang sudah mengikuti training.

Jika karyawan wajib mengikuti training akibat kinerja yang buruk, sebisa mungkin jangan menyampaikannya sembari merendahkan karyawan atau menggunakan kata-kata yang negatif apalagi di depan sesama karyawan.

Beri penekanan bahwa training tersebut merupakan kesempatan yang bagus bagi para karyawan untuk meningkatkan potensi serta membuka kesempatan yang lebih besar dalam pengembangan karir mereka.

Jika perlu, berikan satu bentuk penghargaan kepada karyawan yang telah mengikuti training seperti sertifikat.

Akhirnya, lakukan tindak lanjut berupa pengamatan terhadap kinerja karyawan setelah mengikuti training; pengamatan sebaiknya dilakukan dalam beberapa periode seperti sebulan, tiga bulan dan setahun setelah training untuk melihat apakah materi serta konsep training benar-benar bisa tertanam dengan baik dalam kinerja karyawan atau tidak. Jangan lupa untuk berdiskusi dengan para manajer dan supervisor terkait dengan tindak lanjut training tersebut.

Download slide presentasi yang sangat memikat tentang Management Skills, Motivasi dan Business Strategy DISINI.

Dapatkan secara gratis ebook - PANDUAN menjadi ENTREPRENEUR SUKSES DISINI.